Thursday, May 23, 2019

Shalat Terawih & Open Minded

Di lingkungan rumah saya, shalat terawih dilaksanakan dengan pola 2 rakaat dikali 10 salam dan dilanjutkan 3 rakaat witir. Ayat Quran yang dibaca setelah surat Al-Fatihah pun punya pola yang semenjak saya kecil gak berubah hingga sekarang. Malam ke-1 sampai dengan malam ke-15 diisi dengan surat At-Takatsur sampai dengan surat Al-Lahab di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua. Sedangkan malam ke-16 sampai dengan malam terakhir diisi dengan surat Al-Qadr di rakaat pertama dan surat At-Takatsur sampai dengan surat Al-Lahab di rakaat kedua.

Saking berpolanya, saya yang polos dan dulu melaksanakan begitu saja apa yang diajarkan ke saya, berpikir bahwa pola ini adalah pakem. Sampai saya ikut Rohis ketika SMA, saya jadi tahu ada loh 'opsi' shalat dengan pola dua rakaat dikali 4 salam ataupun pola empat rakaat dikali 2 salam. Bahkan ternyata ayat Qurannya gak pakem harus seperti yang saya tahu.

Ketika kuliah, cara berpikir semakin kritis saya banyak dilatih di organisasi mahasiswa yang saya ikuti. Tergabung dengan pers mahasiswa, mau tidak mau membuat saya kecipratan ikut berani beropini dan membuka pikiran. Hal ini membuat saya menjadi lebih nyaman berdiskusi dengan orang yang open minded dan minimal tidak membicarakan hal kurang berfaedah (menurut saya). Saya senang sekali satu waktu ketika mengejar maghrib tiba di rumah (yang nyatanya tidak terkejar), saya mampir di masjid pinggir jalan sekalian shalat terawih juga di sana. Dan selesai rakaat ke-8, imamnya menyilakan bagi siapa yang punya preferensi 8 rakaat sebelum melanjutkan shalat lagi.

Indah dan adem banget rasanya kalau ibadah yang memang aslinya gak kaku, gak dipaksakan menjadi pola tertentu. Semoga kita senantiasa membuka mata dan bisa berada di lingkungan yang tidak mengerdilkan sudut pandang kita ya. Karena berusaha jadi lebih baik sendirian itu jauh lebih susah dibandingkan ketika kita punya support system yang baik juga.

Wednesday, May 22, 2019

22 Mei 2019

Hari ini adalah hari bersejarah buat Indonesia. Hari ini masda dari pasangan calon presiden dan wakil presiden yang dinyatakan kalah oleh KPU, melakukan aksi damai terkait kecurigaan atas kecurangan proses dan hasil Pemilu. Namun sayangnya ada pihak-pihak yang menunggangi kepentingan ini, yang menyebabkan keadaan menjadi rusuh.

Saya bukan pendukung pasangan yang kalah ini. Jujur, saya sekuat tenaga menahan jari saya untuk turut membuat tweet atau me-retweet apa-apa yang menurut saya make sense tapi tetap tidak elok. Saya ingat-ingat lagi bahwa demo adalah bagian dari demokrasi yang sah-sah saja. Lagipula saya turut menikmati waktu work from home yang fleksibel, selama dua hari berturut-turut. Bahkan sehari sebelumnya, saya bisa pulang cepat dari Slipi dengan berkendara mobil.

Harapan saya, semoga Indonesia damai dan baik-baik saja. Semoga kekhawatiran kejadian buruk di masa lalu terulang, tidak terjadi. Jika kejadian yang ada sekarang adalah proses, semoga hasilnya adalah untuk Indonesia kita yang bertumbuh lebih baik juga.

Monday, March 25, 2019

Visit Myanmar: Budget & Expense Breakdown

Old Bagan, credit: Mr Min (One Bagan Tour)

Last two weeks, I had a chance to go to Myanmar with Valdo and Iphul. Finally our plan since eons had been executed. When I started to post the pictures taken there on my instagram feed, I did not expect to get some responses related to our itinerary, budget, and so on.

As my rememberance, I decided to write them in my blog to be more useful for others.

Our preparations:
  • Booked flight tickets: Jakarta - Kuala Lumpur - Yangon and Yangon - Kuala Lumpur - Jakarta for IDR 1.702.000,00. As a tip, don't be too hurry to book them since the fare is always up and down. For your comparison, I booked Air Asia on 20 Dec 2018 for 14 Mar 2019 flights. If I were being too hurry then, I could pay IDR 100.000,00-200.000,00 higher.
  • Booked tour for Bagan. Personally, It was the best deal we made for this travel. You can search One Bagan Tours at google and find them in google. We booked them at USD 30,00 (USD 1,00 = IDR 14.310,00) for one full day tour and paid them after the tour finished.
  • Booked bus tickets at easybooks.com for Yangon - Bagan. Iphul actually did this. Each of us paid IDR 307.000,00. And we got JJ Express Bus.
  • Booked bus tickets at klook.com for Bagan - Inle. Each of us paid IDR 311.000,00. And we got Bagan Min Thar Bus.
  • Booked bus tickets at klook.com for Inle - Yangon. Each of us paid IDR 311.000,00. And we got JJ Express Bus.
  • Brought USD 150,00 for each of us. You will find difficulties to find kyats. And even if you can find It, I suggest that you bring dollars instead since the exchange rate will be more favorable. (USD 1,00 = MMK 1.500,00 or MMK 1,00 = IDR 10,00)
  • Rent router for all of us IDR 272.000,00 (4 days at Myanmar) and paid deposit for IDR 500.000,00)
  • Downloaded application at google playstore: Splitwise (To split the usage of the bulk money easier, even It can help us what to settle and who to settle. Furthermore, It can track all of our expenses during the travel) and ShareIt (To send pictures on original size with faster time).
So, I already had spent around IDR 2,8 mio exclude converting USD 150 before went to Myanmar. If I include USD converting, the budget is around IDR 5 mio. Besides, I also borrowed a bit of MYR from Iphul since we consider him as local. As for the total expenses I spent both for Myanmar and Yangon is around IDR 2.3 mio. You can find the breakdown here if you interested.

I think that's all for the budget and expense breakdown post. I will write about the itinerary for the next post. Thanks for reading :)