Showing posts with label Travel. Show all posts
Showing posts with label Travel. Show all posts

Wednesday, October 13, 2021

Bali & Sunset

God is giving me blessing in disguise through the pandemic. Currently I am in Bali which may be impossible if it is not pandemic time. What am I doing? Working; doing vacation over the weekend; enjoying sunset mostly every day; washing my clothes on daily basis (say no to laundry hahaha); etc. I was also staying at Bali last year for several days. What I missed from Bali was the sunset moments. This year I will stay for a month to enjoy them as much as I can. And this is me walking on the beach for the sunset.


Canggu, 13 October 2021


Sunday, December 1, 2019

Ke Eropa Timur: Perjalanan dan Tour 10 Hari Bagian 1 (5-7 November 2019)

Seperti janji saya di posting sebelumnya, kali ini saya akan membahas durasi dan jadwal perjalanan selama ikut tour ke Eropa Timur.

Hari 1 - Selasa, 5 November 2019

Pesawat Scoot kami berangkat dari Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta pukul 8 PM GMT+7, sampai di Bandara Singapore sekitar pukul 11 PM GMT+8. 

Hari 2 (Jerman-Ceko) - Rabu, 6 November 2019

Kami mesti transit untuk kembali naik penerbangan pukul 1 AM GMT+8 dan harus membetahkan diri di pesawat selama 13 jam perjalanan. Kami baru sampai di Berlin sekitar pukul 7 AM GMT+1. Pesawat Scoot ini tidak ada hiburan sama sekali ya, jadi waktu yang tepat untuk menyelesaikan bacaan buku atau marathon serial Kdrama. 

Sampai sana kami dijemput bus double dekker pukul 9 AM GMT+1 dan langsung menuju Ceko, Prague. Setelah perjalanan sekitar 2 jam, kami lunch di salah satu resto di Jerman. Inilah kesulitan pertama yang saya dan Decil temui untuk mencari makanan di Eropa. Tapi akhirnya kami makan sup tomat, berhubung suhu udara pun 8 derajat. Makan di sini menghabiskan sekitar EUR 7 (1 EUR = IDR 16000). Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul 2 PM dan sampai di Ceko sekitar pukul 3 PM.
https://drive.google.com/uc?export=view&id=101lTZrM3V_PBmU0xnQ-CvfCZien9EFGh
Prague Castle, Prague, Ceko

Pukul 5 PM kami kembali ke bus dan berangkat ke Astronomical Clock dan Old Town dan sampai sekitar pukul 6 PM. Di sana saya dan Decil makan Tredlnik (EUR 3) dan minum kopi Starbuck (CZK 89, 1CZK = IDR 608) sebagai makan malam.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1PHdI7DcDh12tUNjU4UznJTuWX6fzRyAb
Tredlnik
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1l7xKl6TkTEOKVhbdn2gdFMIhogQiep5N
Astronomical Clock

Kami kembali ke hotel dan tiba sekitar pukul 9 PM.

Hari 3 (Ceko-Slovakia) - Kamis, 7 November 2019

Kami berangkat pukul 8 AM, tapi mengalami musibah bus yang kami gunakan rusak. Ohya ini busnya berganti jadi bus yang bukan double dekker. Kami menunggu bus diperbaiki dari 10 AM sampai 2 PM. Akhirnya kami menunggu sambil makan siang atau untuk pergi ke toilet. Beberapa toilet di Eropa ada tarifnya, sekitar EUR 0,5-1. Kadang kita bisa mendapatkan voucher potongan belanja juga dari tiketnya.

Karena waktu yang terbuang, kami terpaksa harus memilih untuk pergi kemana: Kastil atau Old Town. Akhirnya satu bus sepakat untuk pergi ke kastil. Kami diberi waktu satu jam, karena ketika kami tiba waktu sudah 5 PM.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1yvt3ovJbT_XXYS8rqIHlPP1-xp2MvP-t
Bratislava, Slovakia

Pukul 6 PM kami berangkat dan sampai di Pandorf, Austria untuk shopping. Harga di sini tergolong murah dibandingkan dengan Jakarta. Saya yang tidak punya niat belanja, malah jadi membawakan titipan sepatu gunung Mega. Di Jakarta harganya bisa sampai IDR 2.500.000, di sini hanya EUR 86–hampir hanya setengahnya. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke hotel di Hungaria, Budapest dan tiba pukul 11 PM.


Saturday, November 16, 2019

Ke Eropa Timur: Group Tour dan Budget

Suatu hari Decil mengirim pesan whatsapp ke saya dan mengajak saya untuk ikut group tour ke Eropa (IG: @travelingeropa). Decil memberikan opsi ke Eropa Timur atau ke Eropa Barat, namun dengan mengarahkannya ke Eropa Timur. Karena harga yang relatif murah dan belum pernah ke keduanya, saya ikut saja.

Saya ikut group tour seharga Rp 18.900.000,00, yang terdiri dari:
- 10 hari tour (termasuk perjalanan)
- Pesawat Scoot Jakarta-Singapura-Berlin PP
- Bagasi 20 kg
- Hotel Bintang 3 (tidak termasuk breakfast)
- 6 negara: Ceko, Slovakia, Hungaria, Austria, Italia, dan Jerman
- Bus selama perjalanan antarnegara
- Asuransi
- Biaya pengurusan visa (belum termasuk visa)

Diluar biaya di atas, saya juga mesti mengeluarkan uang untuk visa Rp 2.300.000,00 dan tip ke tour leader Rp 650.000,00. Tour pun memberikan opsi upgrade kamar menjadi 2 orang dengan membayar biaya tambahan Rp 2.000.000,00 per orang (kalau kami tidak upgrade kamar). Kalau tidak melakukan upgrade, satu kamar bisa terdiri dari 3 orang. Selain itu, ada tawaran membeli makanan selama di pesawat Rp 360.000,00 untuk PP perjalanan Singapura-Berlin dan Berlin Singapura (yang masing-masing memakan waktu perjalanan 12 jam, saya ambil penawaran ini agar efisien dan ternyata harga di pesawat pun tidak jauh berbeda, SGD 17). Ada juga tawaran membeli kartu komunikasi yang bisa digunakan di Eropa Rp 600.000,00 dan tambahan bagasi Rp 900.000,00 per 10 kg. Kalau saya dan Decil membeli kartu komunikasi di Blibli seharga Rp 250.000,00 dengan kapasitas 500 MB per hari dan aktif selama 10 hari (ini cukup karena di hotel pun tersedia wifi). Untuk bagasi pun kami tidak membeli tambahan karena tidak banyak barang yang kami beli.

Jadi kurang lebih budget yang mesti disediakan sekitar Rp 22.000.0000,00, belum termasuk makan dan jajan selama di sana. Untuk saya pribadi, saya membawa EUR 200 (senilai Rp 3.200.000,00) dan menghabiskan saldo di Jenius saya sekitar Rp 3.000.000,00 juga. Saya selalu memilih menggunakan Jenius di toko yang punya mesin Visa contactless karena kursnya yang kompetitif (mostly semua negara yang saya kunjungi bisa digunakan, kecuali di Venice, Italia). Untuk uang tunai saya menyisakan sekitar EUR 35 (senilai sekitar Rp 500.000,00).

Next posting, insyaallah saya akan bicara soal durasi dan jadwal ya :)

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1PBbcC0LIpWvdZ5EVgYhsi6ETJrtkDhp7
Fisherman’s Bastion, Budapest, Hungary

Friday, August 23, 2019

Drama Keberangkatan Hingga Menikmati Jalan Harmoni di Penang

Ke Malaysia itu bukan kali pertama jadi tujuan traveling saya. Sebelumnya saya pernah traveling ke Kuala Lumpur di tahun 2017. Dan saya baru sadar belakangan bahwa Kuala Lumpur itu hanya bagian kecil dari Malaysia. Ada Penang, Langkawi, dan mungkin wilayah lainnya yang ternyata menarik dikunjungi. Dan untuk kali ini saya memutuskan pergi ke Penang karena merupakan kota historikalnya dan masih ada Iphul yang jadi TKI di sini.

Keberangkatan saya ke sini diawali dengan pesawat Malindo yang delay 30 menit. Kalau dihitung secara kasar, waktunya tidak akan cukup untuk connecting flight di Kuala Lumpur untuk ke Penang yang cuma berjarak 1 jam. Kalaupun cukup saya sudah membayangkan akan tergesa-gesa sekali. Dan bayangan buruk yang saya pikirkan malah tereksekusi lebih parah lagi: pesawat cancel dan direschedule ke jam 10 malam yang seharusnya berangkat jam 2 siang. Ditambah, keberangkatannya bukan dari bandara Kuala Lumpur, keberangkatannya dari Subang. Ternyata masalahnya berpusat dari sistem bandara Kuala Lumpur yang memang sedang terganggu.

Saya yang memang dasarnya pasrah untuk kondisi yang tidak bisa saya atur, menuju counter Malindo untuk mendapat penjelasan dan kalau bisa penyelesaian terbaik. Namun Tuhan Maha Baik, di sana saya dipertemukan dua orang Indonesia lainnya yang juga hendak menuju ke Penang. Selain jadi punya teman sependeritaan, ternyata ada satua orang yang cukup gigih meminta maskapai mengusahakan agar kami bisa ikut penerbangan terdekat tanpa harus menunggu hingga jam 10 malam. Alhamdulillah.

Sesampainya di Penang, saya sudah ditunggu airporttransport yang saya sudah pesan sejak lama ketika ada diskon di Traveloka. Tapi karena drivernya harus menunggu, saya sepakat memberi tambahan 20 ringgit dibandingkan harus pusing lagi memikirkan bagaimana cara ke hotel. Sepanjang perjalanan, ternyata jalanan Penang cukup lancar dan nuansa yang saya rasakan adalah seperti kota Tangerang (kota yang cukup besar, tapi tidak semegah Jakarta).

Hujan deras menyambut saya ketika tiba di hotel. Karena saya juga sudah melakukan booking, saya hanya perlu menunjukkan passport dan memberikan uang deposit sebanyak 50 ringgit. Sekilas saya baca ada peraturan mengenai pembayaran pajak bagi wisatawan sebesar 3 ringgit per malam. Uang tersebut mungkin akan dipotong dari deposit ketika check out, entahlah saya juga belum tahu.

Selain bermasalah dengan penerbangan, entah kenapa paket data roaming saya seperti tidak mendapatkan sinyal ketika keluar bandara. Saya agak kesulitan mengontak Iphul untuk janjian bertemu memberikan pesanan lauk nasi padang Pagi-Sore Cipete pada jam 7 malam di Masjid Kapitan Keling. Dia menyarankan untuk membeli sim card agar memudahkan komunikasi.Untungnya di sebelah hotel ada Giant, jadi saya bisa ke sana untuk membeli U-Mobile. Walaupun ternyata tetap tidak bisa saya gunakan.

Berbekal keyakinan pasti bisa bertemu walau dengan koneksi terbatas, saya tetap memesan Grab dengan mengandalkan wifi Hotel Royal Penang. Ongkos yang saya habiskan adalah 7 ringgit. Yang menjemput seorang wanita ramah, yang bilang di dekat masjid ini ada nasi kandar yang enak ketika sampai di lokasi.

Setelah shalat maghrib, saya duduk tidak jauh dari tempat jamaah laki-laki. Alhamdulillah, tiba-tiba paket data roaming saya aktif setelah saya kembalikan lagi U-Mobile ke kartu Telkomsel saya. Jadi, saya bisa mengontak Iphul.

Setelah mengambil lauk nasi padangnya, Iphul menjelaskan jalan di sekitar sini disebut sebagai jalan harmoni. Karena masjid, gereja, pura, dan vihara berdiri berdekatan. Selain itu, banyak mural bertebaran yang memang jadi ciri khas Penang. Jadilah saya berhasil mengambil beberapa foto dengan beberapa mural iconic, walaupun dilakakukan di malam hari.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1k_tqJu-pot7mppnNlSHtstUlI83K8NVH
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1mYhAX1nFm0bX586R2pDA6d_nWP8K7q_4
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1Xo-nfIk5XbA6FqzYXsEpINOLdDdtpaOh
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1qjZ3CCR7WHyQQdPvlY5i9bTNdcqrG9RW
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1vuqalGo_q68z0Y78epkNkIz4woD3QWIK

Friday, July 19, 2019

Growing Product Effect: New Share and Canibalism

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1yIDczwQnOanZubz-tSiUg5CYDHeA7oW7

Jadi hari ini dapet ilmu bahwa satu produk yang pertumbuhannya lagi digenjot bisa punya dua efek: penambahan share dan kanibalisme produk alternatif sejenis.


Kalo bonus demografinya Indonesia di bidang pariwisata kayaknya sama ya. Anak muda yang produktif dan jadiin traveling sebagai lifestyle di satu sisi bisa genjot pariwisata dalam negeri. Di sisi lain bisa jadi uang hasil kerja keras mereka malah lari ke luar negeri. Bonusnya demografi jadi agak kurang deh :D

Sunday, May 26, 2019

Hello From The Other Side: Labuan Bajo

https://drive.google.com/uc?export=view&id=157TFFgcVk7hHJhWqeA6xWrkL-2YdNB2-
Was in the middle of recruitment process of the current company. Was worried to miss the calls since would be in the middle of sailing. Had HR interview at the airport, about 1 hour before take off. 

The real definition of what’s meant for you will always be yours.

Monday, March 25, 2019

Visit Myanmar: Budget & Expense Breakdown

Old Bagan, credit: Mr Min (One Bagan Tour)

Last two weeks, I had a chance to go to Myanmar with Valdo and Iphul. Finally our plan since eons had been executed. When I started to post the pictures taken there on my instagram feed, I did not expect to get some responses related to our itinerary, budget, and so on.

As my rememberance, I decided to write them in my blog to be more useful for others.

Our preparations:
  • Booked flight tickets: Jakarta - Kuala Lumpur - Yangon and Yangon - Kuala Lumpur - Jakarta for IDR 1.702.000,00. As a tip, don't be too hurry to book them since the fare is always up and down. For your comparison, I booked Air Asia on 20 Dec 2018 for 14 Mar 2019 flights. If I were being too hurry then, I could pay IDR 100.000,00-200.000,00 higher.
  • Booked tour for Bagan. Personally, It was the best deal we made for this travel. You can search One Bagan Tours at google and find them in google. We booked them at USD 30,00 (USD 1,00 = IDR 14.310,00) for one full day tour and paid them after the tour finished.
  • Booked bus tickets at easybooks.com for Yangon - Bagan. Iphul actually did this. Each of us paid IDR 307.000,00. And we got JJ Express Bus.
  • Booked bus tickets at klook.com for Bagan - Inle. Each of us paid IDR 311.000,00. And we got Bagan Min Thar Bus.
  • Booked bus tickets at klook.com for Inle - Yangon. Each of us paid IDR 311.000,00. And we got JJ Express Bus.
  • Brought USD 150,00 for each of us. You will find difficulties to find kyats. And even if you can find It, I suggest that you bring dollars instead since the exchange rate will be more favorable. (USD 1,00 = MMK 1.500,00 or MMK 1,00 = IDR 10,00)
  • Rent router for all of us IDR 272.000,00 (4 days at Myanmar) and paid deposit for IDR 500.000,00)
  • Downloaded application at google playstore: Splitwise (To split the usage of the bulk money easier, even It can help us what to settle and who to settle. Furthermore, It can track all of our expenses during the travel) and ShareIt (To send pictures on original size with faster time).
So, I already had spent around IDR 2,8 mio exclude converting USD 150 before went to Myanmar. If I include USD converting, the budget is around IDR 5 mio. Besides, I also borrowed a bit of MYR from Iphul since we consider him as local. As for the total expenses I spent both for Myanmar and Yangon is around IDR 2.3 mio. You can find the breakdown here if you interested.

I think that's all for the budget and expense breakdown post. I will write about the itinerary for the next post. Thanks for reading :)

Saturday, July 7, 2018

It was Meant to be

Tanggal 18-21 Juni 2018 kemarin saya menemani Ibu saya dan teman-temannya yang memang guru SD saya ke Medan. Salah satu destinasi wisata kami adalah Danau Toba. Di hari ketika kami menyebrang, ada kejadian tenggelamnya kapal penumpang di Danau Toba. Kami baik-baik saja karena terjebak macet sepanjang jalan menuju penyebrangan dan kami memang naik kapal ferry. Hidup memang selalu ada hikmahnya.

Misalkan saya menggunakan skenario jikalau seandainya semestinya, perjalanan saya kali ini mengingatkan saya dengan dialog di salah satu film favorit saya, 500 Days of Summer.

"Summer: Well, you know, I guess it's 'cause I was sitting in a deli and reading Dorian Gray and a guy comes up to me and asks me about it and... now he's my husband.

Tom: Yeah. And... So?

Summer: So, what if I'd gone to the movies? What if I had gone somewhere else for lunch? What if I'd gotten there 10 minutes later? It was, it was meant to be. And... I just kept thinking... Tom was right.

Tom: No.

Summer: Yeah, I did.

[laughs]

Summer: I did. It just wasn't me that you were right about."

...

Segala puji bagi Allah yang telah memberi keselamatan pada kami. Semoga para penumpang segera diberi kejelasan kabar.