Sunday, December 1, 2019

Ke Eropa Timur: Perjalanan dan Tour 10 Hari Bagian 1 (5-7 November 2019)

Seperti janji saya di posting sebelumnya, kali ini saya akan membahas durasi dan jadwal perjalanan selama ikut tour ke Eropa Timur.

Hari 1 - Selasa, 5 November 2019

Pesawat Scoot kami berangkat dari Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta pukul 8 PM GMT+7, sampai di Bandara Singapore sekitar pukul 11 PM GMT+8. 

Hari 2 (Jerman-Ceko) - Rabu, 6 November 2019

Kami mesti transit untuk kembali naik penerbangan pukul 1 AM GMT+8 dan harus membetahkan diri di pesawat selama 13 jam perjalanan. Kami baru sampai di Berlin sekitar pukul 7 AM GMT+1. Pesawat Scoot ini tidak ada hiburan sama sekali ya, jadi waktu yang tepat untuk menyelesaikan bacaan buku atau marathon serial Kdrama. 

Sampai sana kami dijemput bus double dekker pukul 9 AM GMT+1 dan langsung menuju Ceko, Prague. Setelah perjalanan sekitar 2 jam, kami lunch di salah satu resto di Jerman. Inilah kesulitan pertama yang saya dan Decil temui untuk mencari makanan di Eropa. Tapi akhirnya kami makan sup tomat, berhubung suhu udara pun 8 derajat. Makan di sini menghabiskan sekitar EUR 7 (1 EUR = IDR 16000). Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan sekitar pukul 2 PM dan sampai di Ceko sekitar pukul 3 PM.
https://drive.google.com/uc?export=view&id=101lTZrM3V_PBmU0xnQ-CvfCZien9EFGh
Prague Castle, Prague, Ceko

Pukul 5 PM kami kembali ke bus dan berangkat ke Astronomical Clock dan Old Town dan sampai sekitar pukul 6 PM. Di sana saya dan Decil makan Tredlnik (EUR 3) dan minum kopi Starbuck (CZK 89, 1CZK = IDR 608) sebagai makan malam.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1PHdI7DcDh12tUNjU4UznJTuWX6fzRyAb
Tredlnik
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1l7xKl6TkTEOKVhbdn2gdFMIhogQiep5N
Astronomical Clock

Kami kembali ke hotel dan tiba sekitar pukul 9 PM.

Hari 3 (Ceko-Slovakia) - Kamis, 7 November 2019

Kami berangkat pukul 8 AM, tapi mengalami musibah bus yang kami gunakan rusak. Ohya ini busnya berganti jadi bus yang bukan double dekker. Kami menunggu bus diperbaiki dari 10 AM sampai 2 PM. Akhirnya kami menunggu sambil makan siang atau untuk pergi ke toilet. Beberapa toilet di Eropa ada tarifnya, sekitar EUR 0,5-1. Kadang kita bisa mendapatkan voucher potongan belanja juga dari tiketnya.

Karena waktu yang terbuang, kami terpaksa harus memilih untuk pergi kemana: Kastil atau Old Town. Akhirnya satu bus sepakat untuk pergi ke kastil. Kami diberi waktu satu jam, karena ketika kami tiba waktu sudah 5 PM.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1yvt3ovJbT_XXYS8rqIHlPP1-xp2MvP-t
Bratislava, Slovakia

Pukul 6 PM kami berangkat dan sampai di Pandorf, Austria untuk shopping. Harga di sini tergolong murah dibandingkan dengan Jakarta. Saya yang tidak punya niat belanja, malah jadi membawakan titipan sepatu gunung Mega. Di Jakarta harganya bisa sampai IDR 2.500.000, di sini hanya EUR 86–hampir hanya setengahnya. Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke hotel di Hungaria, Budapest dan tiba pukul 11 PM.


Saturday, November 16, 2019

Ke Eropa Timur: Group Tour dan Budget

Suatu hari Decil mengirim pesan whatsapp ke saya dan mengajak saya untuk ikut group tour ke Eropa (IG: @travelingeropa). Decil memberikan opsi ke Eropa Timur atau ke Eropa Barat, namun dengan mengarahkannya ke Eropa Timur. Karena harga yang relatif murah dan belum pernah ke keduanya, saya ikut saja.

Saya ikut group tour seharga Rp 18.900.000,00, yang terdiri dari:
- 10 hari tour (termasuk perjalanan)
- Pesawat Scoot Jakarta-Singapura-Berlin PP
- Bagasi 20 kg
- Hotel Bintang 3 (tidak termasuk breakfast)
- 6 negara: Ceko, Slovakia, Hungaria, Austria, Italia, dan Jerman
- Bus selama perjalanan antarnegara
- Asuransi
- Biaya pengurusan visa (belum termasuk visa)

Diluar biaya di atas, saya juga mesti mengeluarkan uang untuk visa Rp 2.300.000,00 dan tip ke tour leader Rp 650.000,00. Tour pun memberikan opsi upgrade kamar menjadi 2 orang dengan membayar biaya tambahan Rp 2.000.000,00 per orang (kalau kami tidak upgrade kamar). Kalau tidak melakukan upgrade, satu kamar bisa terdiri dari 3 orang. Selain itu, ada tawaran membeli makanan selama di pesawat Rp 360.000,00 untuk PP perjalanan Singapura-Berlin dan Berlin Singapura (yang masing-masing memakan waktu perjalanan 12 jam, saya ambil penawaran ini agar efisien dan ternyata harga di pesawat pun tidak jauh berbeda, SGD 17). Ada juga tawaran membeli kartu komunikasi yang bisa digunakan di Eropa Rp 600.000,00 dan tambahan bagasi Rp 900.000,00 per 10 kg. Kalau saya dan Decil membeli kartu komunikasi di Blibli seharga Rp 250.000,00 dengan kapasitas 500 MB per hari dan aktif selama 10 hari (ini cukup karena di hotel pun tersedia wifi). Untuk bagasi pun kami tidak membeli tambahan karena tidak banyak barang yang kami beli.

Jadi kurang lebih budget yang mesti disediakan sekitar Rp 22.000.0000,00, belum termasuk makan dan jajan selama di sana. Untuk saya pribadi, saya membawa EUR 200 (senilai Rp 3.200.000,00) dan menghabiskan saldo di Jenius saya sekitar Rp 3.000.000,00 juga. Saya selalu memilih menggunakan Jenius di toko yang punya mesin Visa contactless karena kursnya yang kompetitif (mostly semua negara yang saya kunjungi bisa digunakan, kecuali di Venice, Italia). Untuk uang tunai saya menyisakan sekitar EUR 35 (senilai sekitar Rp 500.000,00).

Next posting, insyaallah saya akan bicara soal durasi dan jadwal ya :)

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1PBbcC0LIpWvdZ5EVgYhsi6ETJrtkDhp7
Fisherman’s Bastion, Budapest, Hungary

Thursday, October 3, 2019

Pasca Nonton Film Bebas Karya Riri Riza

Hari ini saya nonton film Bebas, karya sutradara Riri Riza yang diproduseri Mira Lesmana. Kalau duet dua orang ini, saya punya ekspektasi tertentu memang. Dan untungnya, ekspektasi saya gak meleset jauh: bagus.

Merujuk salah satu adegan di film, kalau saya diberi kesempatan untuk merekam diri saya ketika SMA, kira-kira saya akan ngomong apa ya ke diri saya di masa depan?

“Hai, Bunga. Ketika dewasa nanti kamu bakal jadi akuntan di perusahaan besar. Kamu bakal kaya dan bisa beli apa aja yang dimau.”

Kenyataannya sekarang? Kamu bukan akuntan. Tapi kamu bekerja di perusahaan besar. Kamu belum sekaya yang kamu bayangkan, bisa sedikit membeli apa yang dimau, bahkan gila jalan-jalan.

Buat yang mau mengenang masa muda, film ini pas banget. Nuansa yang diangkat pas banget buat generasi 90an.

Friday, September 13, 2019

Belajar Bahasa (Inggris) Lagi

Saya ingat di awal tahun saya memiliki target untuk menambah kemampuan bahasa asing yang baru. Alhamdulillah bulan ini saya diberi kesempatan untuk belajar bahasa Inggris lagi. Kali ini bertempat di kantor dan gratis, terima kasih Traveloka.

Gapapa kok ‘cuma’ bahasa Inggris. Yang penting waktunya bermanfaat ya. Tinggal PR-nya adalah datang ke kantor jam 9 pagi tiap Selasa dan Kamis, untuk belajar 2 jam per sesi, selama 30 pertemuan. Ah, semangat, Bunga!

Thursday, September 12, 2019

Selamat Jalan, Eyang Habibie

Hari itu saya naik ojek online dari Traveloka ke FX, untuk mengembalikan pinjaman baju dari Style Theory. Kali itu saya dipertemukan driver yang senang bercakap. Entah bagaimana, pusat percakapan kami mengenai anaknya yang baru saja masuk ITB, teknik penerbangan atau sejenisnya.

Si Bapak bercerita dengan bangga, walaupun beliau ‘hanya’ driver ojek online, pendidikan anaknya adalah nomor satu. Dari cerita beliau, saya menyimpulkan anaknya adalah anak yang tahu diri. Dengan kondisi sudah tidak memiliki ibu, dia tetap bersemangat belajar dan hidup tidak neko-neko untuk menyokong kehidupan kuliahnya dan tidak menyusahkan si Bapak. Juga menjadikan B. J. Habibie sebagai idola, panutan hidupnya. Saking dekatnya si anak dengan si Bapak, si Bapak pandai menceritakan tentang paten yang dimiliki Eyang Habibie, yang begitu diinginkan oleh Boeing.

Dan kepergian Eyang Habibie kemarin, mengingatkan saya dengan diskusi 15 menit hari itu. Eyang, you indeed will be missed. Kalau saya punya anak nanti, saya akan cerita bahwa betapa bangganya Indonesia punya putra bangsa seperti Eyang.

Friday, August 23, 2019

Drama Keberangkatan Hingga Menikmati Jalan Harmoni di Penang

Ke Malaysia itu bukan kali pertama jadi tujuan traveling saya. Sebelumnya saya pernah traveling ke Kuala Lumpur di tahun 2017. Dan saya baru sadar belakangan bahwa Kuala Lumpur itu hanya bagian kecil dari Malaysia. Ada Penang, Langkawi, dan mungkin wilayah lainnya yang ternyata menarik dikunjungi. Dan untuk kali ini saya memutuskan pergi ke Penang karena merupakan kota historikalnya dan masih ada Iphul yang jadi TKI di sini.

Keberangkatan saya ke sini diawali dengan pesawat Malindo yang delay 30 menit. Kalau dihitung secara kasar, waktunya tidak akan cukup untuk connecting flight di Kuala Lumpur untuk ke Penang yang cuma berjarak 1 jam. Kalaupun cukup saya sudah membayangkan akan tergesa-gesa sekali. Dan bayangan buruk yang saya pikirkan malah tereksekusi lebih parah lagi: pesawat cancel dan direschedule ke jam 10 malam yang seharusnya berangkat jam 2 siang. Ditambah, keberangkatannya bukan dari bandara Kuala Lumpur, keberangkatannya dari Subang. Ternyata masalahnya berpusat dari sistem bandara Kuala Lumpur yang memang sedang terganggu.

Saya yang memang dasarnya pasrah untuk kondisi yang tidak bisa saya atur, menuju counter Malindo untuk mendapat penjelasan dan kalau bisa penyelesaian terbaik. Namun Tuhan Maha Baik, di sana saya dipertemukan dua orang Indonesia lainnya yang juga hendak menuju ke Penang. Selain jadi punya teman sependeritaan, ternyata ada satua orang yang cukup gigih meminta maskapai mengusahakan agar kami bisa ikut penerbangan terdekat tanpa harus menunggu hingga jam 10 malam. Alhamdulillah.

Sesampainya di Penang, saya sudah ditunggu airporttransport yang saya sudah pesan sejak lama ketika ada diskon di Traveloka. Tapi karena drivernya harus menunggu, saya sepakat memberi tambahan 20 ringgit dibandingkan harus pusing lagi memikirkan bagaimana cara ke hotel. Sepanjang perjalanan, ternyata jalanan Penang cukup lancar dan nuansa yang saya rasakan adalah seperti kota Tangerang (kota yang cukup besar, tapi tidak semegah Jakarta).

Hujan deras menyambut saya ketika tiba di hotel. Karena saya juga sudah melakukan booking, saya hanya perlu menunjukkan passport dan memberikan uang deposit sebanyak 50 ringgit. Sekilas saya baca ada peraturan mengenai pembayaran pajak bagi wisatawan sebesar 3 ringgit per malam. Uang tersebut mungkin akan dipotong dari deposit ketika check out, entahlah saya juga belum tahu.

Selain bermasalah dengan penerbangan, entah kenapa paket data roaming saya seperti tidak mendapatkan sinyal ketika keluar bandara. Saya agak kesulitan mengontak Iphul untuk janjian bertemu memberikan pesanan lauk nasi padang Pagi-Sore Cipete pada jam 7 malam di Masjid Kapitan Keling. Dia menyarankan untuk membeli sim card agar memudahkan komunikasi.Untungnya di sebelah hotel ada Giant, jadi saya bisa ke sana untuk membeli U-Mobile. Walaupun ternyata tetap tidak bisa saya gunakan.

Berbekal keyakinan pasti bisa bertemu walau dengan koneksi terbatas, saya tetap memesan Grab dengan mengandalkan wifi Hotel Royal Penang. Ongkos yang saya habiskan adalah 7 ringgit. Yang menjemput seorang wanita ramah, yang bilang di dekat masjid ini ada nasi kandar yang enak ketika sampai di lokasi.

Setelah shalat maghrib, saya duduk tidak jauh dari tempat jamaah laki-laki. Alhamdulillah, tiba-tiba paket data roaming saya aktif setelah saya kembalikan lagi U-Mobile ke kartu Telkomsel saya. Jadi, saya bisa mengontak Iphul.

Setelah mengambil lauk nasi padangnya, Iphul menjelaskan jalan di sekitar sini disebut sebagai jalan harmoni. Karena masjid, gereja, pura, dan vihara berdiri berdekatan. Selain itu, banyak mural bertebaran yang memang jadi ciri khas Penang. Jadilah saya berhasil mengambil beberapa foto dengan beberapa mural iconic, walaupun dilakakukan di malam hari.

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1k_tqJu-pot7mppnNlSHtstUlI83K8NVH
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1mYhAX1nFm0bX586R2pDA6d_nWP8K7q_4
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1Xo-nfIk5XbA6FqzYXsEpINOLdDdtpaOh
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1qjZ3CCR7WHyQQdPvlY5i9bTNdcqrG9RW
https://drive.google.com/uc?export=view&id=1vuqalGo_q68z0Y78epkNkIz4woD3QWIK

Friday, July 19, 2019

Growing Product Effect: New Share and Canibalism

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1yIDczwQnOanZubz-tSiUg5CYDHeA7oW7

Jadi hari ini dapet ilmu bahwa satu produk yang pertumbuhannya lagi digenjot bisa punya dua efek: penambahan share dan kanibalisme produk alternatif sejenis.


Kalo bonus demografinya Indonesia di bidang pariwisata kayaknya sama ya. Anak muda yang produktif dan jadiin traveling sebagai lifestyle di satu sisi bisa genjot pariwisata dalam negeri. Di sisi lain bisa jadi uang hasil kerja keras mereka malah lari ke luar negeri. Bonusnya demografi jadi agak kurang deh :D

Friday, June 28, 2019

Hello From The Other Side: Kue Naik Haji

https://drive.google.com/uc?export=view&id=1A55idHDV8dB0wg1qLr7JWva4KgqzLIqH

One of my clients often served us this snack. We called this snack kue naik haji since we got the snack almost every day which we assumed the seller could go to Mecca because of the client.

Sunday, May 26, 2019

Hello From The Other Side: Labuan Bajo

https://drive.google.com/uc?export=view&id=157TFFgcVk7hHJhWqeA6xWrkL-2YdNB2-
Was in the middle of recruitment process of the current company. Was worried to miss the calls since would be in the middle of sailing. Had HR interview at the airport, about 1 hour before take off. 

The real definition of what’s meant for you will always be yours.

Thursday, May 23, 2019

Shalat Terawih & Open Minded

Di lingkungan rumah saya, shalat terawih dilaksanakan dengan pola 2 rakaat dikali 10 salam dan dilanjutkan 3 rakaat witir. Ayat Quran yang dibaca setelah surat Al-Fatihah pun punya pola yang semenjak saya kecil gak berubah hingga sekarang. Malam ke-1 sampai dengan malam ke-15 diisi dengan surat At-Takatsur sampai dengan surat Al-Lahab di rakaat pertama dan surat Al-Ikhlas di rakaat kedua. Sedangkan malam ke-16 sampai dengan malam terakhir diisi dengan surat Al-Qadr di rakaat pertama dan surat At-Takatsur sampai dengan surat Al-Lahab di rakaat kedua.

Saking berpolanya, saya yang polos dan dulu melaksanakan begitu saja apa yang diajarkan ke saya, berpikir bahwa pola ini adalah pakem. Sampai saya ikut Rohis ketika SMA, saya jadi tahu ada loh 'opsi' shalat dengan pola dua rakaat dikali 4 salam ataupun pola empat rakaat dikali 2 salam. Bahkan ternyata ayat Qurannya gak pakem harus seperti yang saya tahu.

Ketika kuliah, cara berpikir semakin kritis saya banyak dilatih di organisasi mahasiswa yang saya ikuti. Tergabung dengan pers mahasiswa, mau tidak mau membuat saya kecipratan ikut berani beropini dan membuka pikiran. Hal ini membuat saya menjadi lebih nyaman berdiskusi dengan orang yang open minded dan minimal tidak membicarakan hal kurang berfaedah (menurut saya). Saya senang sekali satu waktu ketika mengejar maghrib tiba di rumah (yang nyatanya tidak terkejar), saya mampir di masjid pinggir jalan sekalian shalat terawih juga di sana. Dan selesai rakaat ke-8, imamnya menyilakan bagi siapa yang punya preferensi 8 rakaat sebelum melanjutkan shalat lagi.

Indah dan adem banget rasanya kalau ibadah yang memang aslinya gak kaku, gak dipaksakan menjadi pola tertentu. Semoga kita senantiasa membuka mata dan bisa berada di lingkungan yang tidak mengerdilkan sudut pandang kita ya. Karena berusaha jadi lebih baik sendirian itu jauh lebih susah dibandingkan ketika kita punya support system yang baik juga.

Wednesday, May 22, 2019

22 Mei 2019

Hari ini adalah hari bersejarah buat Indonesia. Hari ini masda dari pasangan calon presiden dan wakil presiden yang dinyatakan kalah oleh KPU, melakukan aksi damai terkait kecurigaan atas kecurangan proses dan hasil Pemilu. Namun sayangnya ada pihak-pihak yang menunggangi kepentingan ini, yang menyebabkan keadaan menjadi rusuh.

Saya bukan pendukung pasangan yang kalah ini. Jujur, saya sekuat tenaga menahan jari saya untuk turut membuat tweet atau me-retweet apa-apa yang menurut saya make sense tapi tetap tidak elok. Saya ingat-ingat lagi bahwa demo adalah bagian dari demokrasi yang sah-sah saja. Lagipula saya turut menikmati waktu work from home yang fleksibel, selama dua hari berturut-turut. Bahkan sehari sebelumnya, saya bisa pulang cepat dari Slipi dengan berkendara mobil.

Harapan saya, semoga Indonesia damai dan baik-baik saja. Semoga kekhawatiran kejadian buruk di masa lalu terulang, tidak terjadi. Jika kejadian yang ada sekarang adalah proses, semoga hasilnya adalah untuk Indonesia kita yang bertumbuh lebih baik juga.

Monday, March 25, 2019

Visit Myanmar: Budget & Expense Breakdown

Old Bagan, credit: Mr Min (One Bagan Tour)

Last two weeks, I had a chance to go to Myanmar with Valdo and Iphul. Finally our plan since eons had been executed. When I started to post the pictures taken there on my instagram feed, I did not expect to get some responses related to our itinerary, budget, and so on.

As my rememberance, I decided to write them in my blog to be more useful for others.

Our preparations:
  • Booked flight tickets: Jakarta - Kuala Lumpur - Yangon and Yangon - Kuala Lumpur - Jakarta for IDR 1.702.000,00. As a tip, don't be too hurry to book them since the fare is always up and down. For your comparison, I booked Air Asia on 20 Dec 2018 for 14 Mar 2019 flights. If I were being too hurry then, I could pay IDR 100.000,00-200.000,00 higher.
  • Booked tour for Bagan. Personally, It was the best deal we made for this travel. You can search One Bagan Tours at google and find them in google. We booked them at USD 30,00 (USD 1,00 = IDR 14.310,00) for one full day tour and paid them after the tour finished.
  • Booked bus tickets at easybooks.com for Yangon - Bagan. Iphul actually did this. Each of us paid IDR 307.000,00. And we got JJ Express Bus.
  • Booked bus tickets at klook.com for Bagan - Inle. Each of us paid IDR 311.000,00. And we got Bagan Min Thar Bus.
  • Booked bus tickets at klook.com for Inle - Yangon. Each of us paid IDR 311.000,00. And we got JJ Express Bus.
  • Brought USD 150,00 for each of us. You will find difficulties to find kyats. And even if you can find It, I suggest that you bring dollars instead since the exchange rate will be more favorable. (USD 1,00 = MMK 1.500,00 or MMK 1,00 = IDR 10,00)
  • Rent router for all of us IDR 272.000,00 (4 days at Myanmar) and paid deposit for IDR 500.000,00)
  • Downloaded application at google playstore: Splitwise (To split the usage of the bulk money easier, even It can help us what to settle and who to settle. Furthermore, It can track all of our expenses during the travel) and ShareIt (To send pictures on original size with faster time).
So, I already had spent around IDR 2,8 mio exclude converting USD 150 before went to Myanmar. If I include USD converting, the budget is around IDR 5 mio. Besides, I also borrowed a bit of MYR from Iphul since we consider him as local. As for the total expenses I spent both for Myanmar and Yangon is around IDR 2.3 mio. You can find the breakdown here if you interested.

I think that's all for the budget and expense breakdown post. I will write about the itinerary for the next post. Thanks for reading :)

Friday, February 8, 2019

Dua Personil, Cukup

Sejak Desember pertengahan, saya mendapatkan peer bekerja bernama Nung. Impact keberadaannya benar-benar saya rasakan ketika closing Januari ini. Dan ternyata setelah kami berefleksi diri, dua personil insyaallah cukup untuk mendukung finance production integration di stream kami. Tadinya saya pikir kami butuh 3 orang. Namun seiring berjalannya waktu dan bertambah pemahaman kami, Nung bisa diandalkan mengerjakan hal-hal yang bersifat rutin sambil saya libatkan dalam projek yang sifatnya berkaitan dengan launcing feature/product.

Ah senangnya, alhamdulillah.

Sunday, January 27, 2019

Hikmah Gagal John Mayer

Pasca gagal beli tiket konser John Mayer di Jakarta tanggal 5 April 2019 nanti adalah mengalihkan alokasi uangnya ke acara Jouska: Forward 2019.

Karena target yang sudah sekian tahun menggulung adalah perbaikan manajemen finansial, saya rasa salah satu cara untuk mengeksekusinya adalah lewat acara ini. Buat yang ikutan juga, see you there!

#ThankYouButet

Terinspirasi dari bio Butet di instagram, dikombinasikan dengan kondisi kerjaan sekarang:

"Fixing sucks but closing is everything."

Sunday, January 20, 2019

Behel & Dokter Gigi

Belum genap setahun saya menggunakan behel, 10 atau 11 bulan lah. Kalau mau ideal, si behel ini mesti dikontrol sebulan sekali ke dokter gigi. Kenyataannya dia hanya saya beri haknya sebisanya.

Kadang ketidak-konsistenan ini karena memang disengaja: sekali kontrol itu di RS Sari Asih Ciledug keluar biaya 95 ribu untuk konsultasi dan administrasi, ditambah 260 ribu untuk kontrol ortho. Coba kalau dikalikan 12, setahun saya bisa menghabiskan 4,26 juta (diluar harga pasang awal 6 juta). Ini alasan utama saya tidak benar-benar rutin untuk kontrol behel #missqueen.

Alasan berikutnya adalah sulitnya mengantri dokter gigi langganan di jadwal praktik Sabtu malam. Jadi dokter gigi saya ini drg. Rahmadani praktik di Jumat sore dan Sabtu malam. Sebagai pasukan pencari uang, agaknya kalau tiap Jumat sore mesti cuti lama-lama dipecat saya. Dan tidak beruntungnya, Sabtu itu super padat pelanggan. Ditambah pikunnya saya untuk segera mendaftar paling lambat di hari Kamis jika ingin kontrol di Sabtu minggu yang sama.

November awal lalu, ring salah satu penyangga behel saya lepas dan saya baru punya kesempatan kontrol di bulan Desember awal. Karena terlalu lama, gigi geraham saya terlanjur memperkecil rongganya sehingga ringnya tidak bisa dipasang kembali. Jadilah antara gigi saya disangga sesuatu untuk memberikan ruang kembali serta diminta kembali dalam 2-3 minggu.

Saking cepatnya pergerakan gigi saya, hanya dalam waktu kurang dari 2 minggu si penyangga telah hilang dan sepertinya saya telan. Saya sudah berusaha mendaftarkan diri untuk kontrol sebelum liburan ke Raja Ampat, tapi apa daya penuh terus (ditambah pengeluaran Desember lalu super banyak, semakin mendisinsentif buat kontrol). Selain itu, website rumah sakitnya ternyata mengalami bugs sehingga menyulitkan saya mendaftarkan diri seperti biasa.

Hingga tiba-tiba di Jumat kemarin, datanglah sms bahwa saya terdaftar dalam perjanjian dengan dokter gigi. "Apakah ini sebentuk bugs sistem yang favorable buat saya?" Begitulah pikir saya karena saya memang berniat ke dokter gigi minggu ini, tapi lagi-lagi lupa mendaftar. Tapi ternyata sang dokter sendirilah yang mendaftarkan nama saya karena merasa saya terlalu lama tidak kontrol dengan kondisi ring gigi lepas.

Dan perkembangannya adalah sang dokter puas dengan kemunduran gigi bawah saya dan tidak berniat memundurkannya lagi. Sekarang beliau fokus untuk merapikan gigi atas saya yang agak bandel dikarenakan banyak tambalan yang membuatnya sulit mengikuti lengkung gigi yang diharapkan. Doakan saya segera lepas behel ya agar gigi segera rapi dan mengurangi biaya rutin bulanan tentunya.

Monday, January 7, 2019

Welcome 2019

This year, here what I want:
1. Read more
2. Understand better
3. Work effectively and efficiently
4. Saving much money
5. Learn a new language
6. Love and be loved by a man
7. Spend more time with family

Amin.