Si Bapak bercerita dengan bangga, walaupun beliau ‘hanya’ driver ojek online, pendidikan anaknya adalah nomor satu. Dari cerita beliau, saya menyimpulkan anaknya adalah anak yang tahu diri. Dengan kondisi sudah tidak memiliki ibu, dia tetap bersemangat belajar dan hidup tidak neko-neko untuk menyokong kehidupan kuliahnya dan tidak menyusahkan si Bapak. Juga menjadikan B. J. Habibie sebagai idola, panutan hidupnya. Saking dekatnya si anak dengan si Bapak, si Bapak pandai menceritakan tentang paten yang dimiliki Eyang Habibie, yang begitu diinginkan oleh Boeing.
Dan kepergian Eyang Habibie kemarin, mengingatkan saya dengan diskusi 15 menit hari itu. Eyang, you indeed will be missed. Kalau saya punya anak nanti, saya akan cerita bahwa betapa bangganya Indonesia punya putra bangsa seperti Eyang.
No comments:
Post a Comment