I used to have advanced skills at working environment. Eventhough Steve Jobs said "Keep foolish", I guess there's a limit for being slow. I am mad with myself, "Why am I not catching up as fast as I think I could?"
God, help me.
I used to have advanced skills at working environment. Eventhough Steve Jobs said "Keep foolish", I guess there's a limit for being slow. I am mad with myself, "Why am I not catching up as fast as I think I could?"
God, help me.
I scrolled the instagram stories as usual and found someone I follow posting about podcast of Nouman Ali Khan. What I did next was downloading podcast installer. And I felt like I finally found something to slap my own face to realize that I justify myself lately.
"The sin is bad, but justify It is even worse."
Strike through my heart and myself to blame. While the podcast is playing and hitting me at the same time, It is lightning my heart somehow. If you have the same condition just like me, maybe you could try the same thing.
Yesterday I finished reading Great Gatsby. As usual, there are several sentences from the book which make me interested. One of them is:
"No amount of fire or freshness can challenge what a man will store up in his ghostly heart."
Gatsby is adoring Daisy from his past and getting a chance to meet her later. Between those time, he grows the image of Daisy in his mind. And I think that is the start of the tragedy.
This thing made me realized that somehow I did that to one of the man I used to try to be closed with. I adored him and shaped his image on my mind. I believed he's kind and so on. Not that he's not a good person, but I just felt bad to expect him to be the kind of man I have in mind. Maybe he could see that. And that's the end of the story.
Although we are still friends, I think I have to apologize to him for what I did on the past. And we can continue anything, a fresh start for any kind of relationship. I seriously don't mind.
Everytime I learn something new, I have certain expectation towards myself. And I am currently setting something quite high, I know, but somehow I want to achieve that. Bismillah.
Today the HR told us, the new joiner, the philosophy of the company's logo. I just knew that the bird was godwit. The godwits could fly very far with one time travel. So the company hopes could travel the customers as far as It could, to make their life easier. I really like the idea. And I hope I could fly further and longer with the current company.
Today was my first day at the new company. I was anxious yet excited at the same time. I could feel the pressure of expectation while my buddy hands over the tasks. Or when the lead told me how my buddy is very helpful for the project yet she has to move to other department. I hopefully could go beyond their expectation and help the project run smoothly. Wish me break some legs!
Haruki Murakami adalah penulis favorit saya. Memang belum semua bukunya saya baca, tapi untuk bukunya yang berjudul South of The Border, West of The Sun ini cukup istimewa buat saya. Karakter pendukung pada buku ini mencuri perhatian saya: Yukiko.
Honestly, Haruki Murakami punya tipe alur cerita yang cukup berat bagi saya. Imajinasi yang dibawa, sejenis fiksi yang topiknya masih belum bisa saya nikmati dengan mudah. Saya bahkan lebih mampu menikmati karyanya di What I Talk About When I Talk About Running ataupun Colorless Tsukuru Tazaki. Satu hal lain yang saya suka, kedetailan beliau menjelaskan latar dan perasaan para karakter.
Satu hal yang saya perhatikan, Haruki Murakami hampir selalu mengangkat tokoh utama yang penyendiri dan intovert. Tapi pada buku beliau kali ini, yang membuat saya jatuh cinta adalah karakter pendukungnya; Yukiko.
Yukiko digambarkan sebagai seorang istri yang mau menerima kembali suaminya yang sempat menghilang bersama masa lalunya. Namun bukan menerima dengan begitu saja, ia menerima dengan syarat dan sikap tegas yang membuat si suami tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya. Benar-benar tipe wanita yang misalnya ada di dunia nyata bakal saya idolakan.
Belakangan semenjak bekerja, saya rajin membeli skincare dan mulai konsisten menggunakannya. Kenapa saya menggunakan kata mulai? Karena biasanya saya hanya senang membeli dibanding menggunakan. Tidak jarang produknya keburu melewati masa kadaluarsa dalam keadaan masih banyak e he.
Berhubung saya sedang mengecek ulang secara detail pengeluaran pribadi, saya cukup concern dengan pengeluaran saya untuk yang satu ini. Skincare tentunya berkontribusi cukup signifikan. Instead of ekstrim tidak membeli sama sekali, saya mencoba untuk rutin menggunakan apa-apa yang sudah saya beli. Dan ternyata membangun kebiasaan seperti ini butuhlah konsistensi.
Konon katanya membangun sebuah kebiasaan itu butuh waktu paling tidak 21 hari konsisten melakukan hal tersebut. Jadi, mohon doa dan semangatnya untuk konsisten memperbaiki diri, mulai dari hal-hal kecil.
I finished 3 books in a half month. Whoah, kind of unbelievable. Maybe It's true that if we put our mind into something, we can accomplish certain things.
P.S. I possibly talk about the books on the near posting
Alhamdulillah Engkau langsung menunjukkan kemudahan-kemudahan padaku ya Allah. Semoga bisa konsisten dan niat baik ini tetap Engkau bantu jaga. Bismillah.
Ya Tuhan, semoga Engkau mudahkan segala niat baik dan berkenan mengabulkan segala harapan baik kami. Bismillah.
Belakangan Mamah selalu mengangkat topik-topik serius ketika berbicara dengan saya. Saya tahu beliau hanya khawatir. Dan mungkin perilaku saya kian mengkhawatirkan perkara manajemen waktu dan uang. Semoga saya bisa mengurangi beban pikiran beliau sebisa mungkin. Saya akan berusaha sebaik yang saya bisa.
Saya baru saja memasukkan mobil saya untuk klaim asuransi mobil beberapa minggu lalu. Hampir 2 minggu saya memanfaatkan berbagai moda transportasi untuk mencapai tujuan, yang paling berkesan adalah berkendara menggunakan Transjakarta. Transportasi publik yang satu ini cukup berhasil membuat saya merefleksikan hal-hal baik yang muncul karena saya memilih efektivitas dan efisiensi dibandingkan sekadar rasa nyaman.
Hari ini saya naik Transjakarta dari halte Puri Beta 2 (halte terdekat dari rumah saya). Saya memilih berkendara dengan transportasi ini karena tempat yang harus saya datangi terletak di tengah kota yang riweuh dengan perkara plat ganjil genap. Hanya perlu menghabiskan Rp3.500,00 untuk saya sampai ke halte tujuan. Jika dibandingkan naik motor yang mengharuskan saya melawan kantuk (iya, saya tipikal pengendara motor yang mudah mengantuk) atau naik mobil yang pastinya boros di bensin, tarifnya sungguhlah melegakkan dompet.
Berhubung saya sedang memperbaiki diri dalam hal kedatangan tepat waktu, jadilah saya berangkat pukul 06.30 dari rumah dengan meminta Mamah mengantarkan saya ke halte. See? Dengan niatan seperti ini, saya bahkan dapat menikmati sajian menghabiskan waktu lebih lama dengan ibu saya. Butuh waktu 15 menit untuk sampai dengan kecepatan berkendara ala ibu saya. Singkat cerita, saya bisa tiba ke halte Slipi dalam waktu 1 jam kurang saja dari halte awal.
Dan satu hal lagi, dengan naik Transjakarta, saya jadi menyadari bahwa saya bisa naik kendaraan ini untuk sampai ke kantor saya (yang baru). Sebelumnya saya hanya memikirkan opsi kereta (yang mesti dikombinasikan dengan ojek) dan naik mobil. Ah, terima kasih Tuhan sudah membuka pikiran saya untuk menyadari hal-hal di atas.
Alhamdulillah.
Warga dan komuter Jakarta bisa terkena macet hingga 5 jam kemarin. Ada apa sih memangnya? Ternyata hal ini dikarenakan imbas kebijakan perluasan pemberlakuan plat ganjil genap hingga ke banyak tol; untuk penyambutan ASIAN Games. Kalau saya sih kebetulan memang (sialnya) pulang pagi ya, jadi tidak turut merasakan padatnya jalanan.
Hal menarik yang saya perhatikan adalah imbas perilaku para manusia Jakarta di keesokan harinya. Jalan benar-benar bisa dibilang kosong untuk takaran kota megapolitan ini. Memang selalu ada kemudahan berbarengan dengan kesulitan ya, kali ini kita jadi dipaksa menggunakan transportasi publik.
Cheers,
Bunga
Dia adalah orang baik yang tak ingin terus berdiri di depan pintu dan menghalangi yang kelak membukanya. (Mutia Prawitasari)
Saya bersyukur bisa bekerja di tempat yang sama selama hampir lima tahun.
Saya bersyukur perusahaan memberi penghargaan yang cukup selama masa bakti tersebut.
Saya bersyukur diberi kepercayaan untuk menangani proyek-proyek dengan segala tantangannya.
Saya bersyukur dijadikan tempat bertanya untuk hal-hal yang sebelumnya saya juga tidak kuasai.
Saya bersyukur dengan apa-apa yang saya miliki sekarang, sebagai perwujudan apa-apa yang saya harapkan sebelumnya.
Tanggal 18-21 Juni 2018 kemarin saya menemani Ibu saya dan teman-temannya yang memang guru SD saya ke Medan. Salah satu destinasi wisata kami adalah Danau Toba. Di hari ketika kami menyebrang, ada kejadian tenggelamnya kapal penumpang di Danau Toba. Kami baik-baik saja karena terjebak macet sepanjang jalan menuju penyebrangan dan kami memang naik kapal ferry. Hidup memang selalu ada hikmahnya.
Misalkan saya menggunakan skenario jikalau seandainya semestinya, perjalanan saya kali ini mengingatkan saya dengan dialog di salah satu film favorit saya, 500 Days of Summer.
"Summer: Well, you know, I guess it's 'cause I was sitting in a deli and reading Dorian Gray and a guy comes up to me and asks me about it and... now he's my husband.
Tom: Yeah. And... So?
Summer: So, what if I'd gone to the movies? What if I had gone somewhere else for lunch? What if I'd gotten there 10 minutes later? It was, it was meant to be. And... I just kept thinking... Tom was right.
Tom: No.
Summer: Yeah, I did.
[laughs]
Summer: I did. It just wasn't me that you were right about."
...
Segala puji bagi Allah yang telah memberi keselamatan pada kami. Semoga para penumpang segera diberi kejelasan kabar.
Hari ini saya ditraktir Valdo di Common Ground, hasil perjuangan dia berburu Samsung Gift. Cappucino-nya lebih pahit (dibanding kopi-kopi yang pernah saya minum) dan kue jeruknya (?) enak juga. Pukul 18.30 kami berpisah karena Valdo hendak melakukan aktivitas baru yang dia jalankan, sedangkan saya menuju musholla. Kegiatan setelah shalat maghrib inilah yang jadi ide tulisan saya kali ini: mampir bazaar Gramedia.
Berawal dari sekadar ingin melihat buku, berakhir dengan membeli bukunya Mitch Albom yang berjudul The Five People You Meet in Heaven dan meja belajar lipat, pulpen warna-warni, krayon untuk Aca, plastik sampul buku, selotip, serta double tape (?). Saya sedih akan keimpulsifan saya, tapi senang juga karena sudah lama saya tidak belanja benda-benda lucu. Namun sayangnya niat untuk menyampul buku-buku bacaan yang belakangan dibeli pupus sudah karena ternyata mbak kasir tidak mencantumkan benda tersebut ke order saya.
Hari ini patut dinobatkan sebagai hari impulsif Bunga. Karena siangnya saya bersama Valdo dan Dani pergi karaoke demi memanfaatkan waktu istirahat panjang di hari Jumat. I know I was mad, but I was having fun.
Cheers,
Bunga
Tuhan, jauhkanlah hamba dari sifat hipokrit.
Entah karena saya sudah semakin dewasa atau entah saya sudah kelewat berlogika, belakangan setiap berdoa saya selalu meminta dua hal dalam satu permohonan. Yang pertama, saya akan meminta ridho Tuhan agar dilancarkan usaha dalam mencapai apa-apa yang saya harapkan. Yang kedua, saya akan memohon keikhlasan dan ketabahan hati apabila apa yang saya usahakan tidak sejalan dengan jalan Tuhan.
Dengan begitu, saya merasa lebih siap menghadapi dan menjalani takdir Tuhan.
Cheers,
Bunga
Ada salah satu dari karakter saya yang keberadaannya kadang menyulitkan saya sendiri. Karakter yang saya maksud adalah susah move on. Sayangnya, saya ini gak cuma susah move on untuk hal-hal yang membangun diri.
Saya baru benar-benar menyadari hal ini belakangan. Saya susah move one dari kantor yang sama semenjak saya lulus kuliah, yang mana merupakan hal yang cukup gak biasa jika dibandingkan teman-teman sealmamater. Dan yang paling gak enak, saya susah move on dari obsesi dengan satu hal/orang sampai ketika saya menemukan penggantinya.
Mungkin karena hati saya gak cukup luas, cuma cukup satu pula kapasitasnya.
Cheers,
Bunga
Halo!
Saya baru saja selesai merapikan kamar tidur pada pukul 01.30 hari ini. Saya memang terbiasa merapikan kamar mulai hampir tengah malam dan selesai pada dini hari. Dan tiap kali saya merapikan kamar, sesungguhnya saya sedang menjalankan sebuah ritual: mendamaikan pikiran.
Entah sejak kapan saya melakukan kebiasaan ini, tapi ritual ini memang menjadi semacam terapi saya untuk menenangkan diri. Ketika banyak hal terpikirkan oleh saya, saya akan mulai melerai benang-benang kusut tersebut dengan merapikan kamar. Karena hal ini bekerja untuk saya, mungkin boleh dicoba untuk melakukan hal yang sama ketika banyak pikiran.
Cheers,
Bunga