Thursday, August 23, 2018

Haruki Murakami - South of The Border, West of The Sun

Haruki Murakami adalah penulis favorit saya. Memang belum semua bukunya saya baca, tapi untuk bukunya yang berjudul South of The Border, West of The Sun ini cukup istimewa buat saya. Karakter pendukung pada buku ini mencuri perhatian saya: Yukiko.

Honestly, Haruki Murakami punya tipe alur cerita yang cukup berat bagi saya. Imajinasi yang dibawa, sejenis fiksi yang topiknya masih belum bisa saya nikmati dengan mudah. Saya bahkan lebih mampu menikmati karyanya di What I Talk About When I Talk About Running ataupun Colorless Tsukuru Tazaki. Satu hal lain yang saya suka, kedetailan beliau menjelaskan latar dan perasaan para karakter.

Satu hal yang saya perhatikan, Haruki Murakami hampir selalu mengangkat tokoh utama yang penyendiri dan intovert. Tapi pada buku beliau kali ini, yang membuat saya jatuh cinta adalah karakter pendukungnya; Yukiko.

Yukiko digambarkan sebagai seorang istri yang mau menerima kembali suaminya yang sempat menghilang bersama masa lalunya. Namun bukan menerima dengan begitu saja, ia menerima dengan syarat dan sikap tegas yang membuat si suami tahu bahwa ini adalah kesempatan terakhirnya. Benar-benar tipe wanita yang misalnya ada di dunia nyata bakal saya idolakan.

Skincare: Building A Habit

Belakangan semenjak bekerja, saya rajin membeli skincare dan mulai konsisten menggunakannya. Kenapa saya menggunakan kata mulai? Karena biasanya saya hanya senang membeli dibanding menggunakan. Tidak jarang produknya keburu melewati masa kadaluarsa dalam keadaan masih banyak e he.

Berhubung saya sedang mengecek ulang secara detail pengeluaran pribadi, saya cukup concern dengan pengeluaran saya untuk yang satu ini. Skincare tentunya berkontribusi cukup signifikan. Instead of ekstrim tidak membeli sama sekali, saya mencoba untuk rutin menggunakan apa-apa yang sudah saya beli. Dan ternyata membangun kebiasaan seperti ini butuhlah konsistensi.

Konon katanya membangun sebuah kebiasaan itu butuh waktu paling tidak 21 hari konsisten melakukan hal tersebut. Jadi, mohon doa dan semangatnya untuk konsisten memperbaiki diri, mulai dari hal-hal kecil.

Sunday, August 19, 2018

Tuesday With Morrie; Crazy Rich Asians; South of The Border, West of The Sun

I finished 3 books in a half month. Whoah, kind of unbelievable. Maybe It's true that if we put our mind into something, we can accomplish certain things.

P.S. I possibly talk about the books on the near posting

Monday, August 13, 2018

When There's a Will, There's a Way

Alhamdulillah Engkau langsung menunjukkan kemudahan-kemudahan padaku ya Allah. Semoga bisa konsisten dan niat baik ini tetap Engkau bantu jaga. Bismillah.

Aamiin

Ya Tuhan, semoga Engkau mudahkan segala niat baik dan berkenan mengabulkan segala harapan baik kami. Bismillah.

When Mom Being Serious

Belakangan Mamah selalu mengangkat topik-topik serius ketika berbicara dengan saya. Saya tahu beliau hanya khawatir. Dan mungkin perilaku saya kian mengkhawatirkan perkara manajemen waktu dan uang. Semoga saya bisa mengurangi beban pikiran beliau sebisa mungkin. Saya akan berusaha sebaik yang saya bisa.

Thursday, August 2, 2018

Butterfly Effect Dari Transportasi Publik

Saya baru saja memasukkan mobil saya untuk klaim asuransi mobil beberapa minggu lalu. Hampir 2 minggu saya memanfaatkan berbagai moda transportasi untuk mencapai tujuan, yang paling berkesan adalah berkendara menggunakan Transjakarta. Transportasi publik yang satu ini cukup berhasil membuat saya merefleksikan hal-hal baik yang muncul karena saya memilih efektivitas dan efisiensi dibandingkan sekadar rasa nyaman.

Hari ini saya naik Transjakarta dari halte Puri Beta 2 (halte terdekat dari rumah saya). Saya memilih berkendara dengan transportasi ini karena tempat yang harus saya datangi terletak di tengah kota yang riweuh dengan perkara plat ganjil genap. Hanya perlu menghabiskan Rp3.500,00 untuk saya sampai ke halte tujuan. Jika dibandingkan naik motor yang mengharuskan saya melawan kantuk (iya, saya tipikal pengendara motor yang mudah mengantuk) atau naik mobil yang pastinya boros di bensin, tarifnya sungguhlah melegakkan dompet.

Berhubung saya sedang memperbaiki diri dalam hal kedatangan tepat waktu, jadilah saya berangkat pukul 06.30 dari rumah dengan meminta Mamah mengantarkan saya ke halte. See? Dengan niatan seperti ini, saya bahkan dapat menikmati sajian menghabiskan waktu lebih lama dengan ibu saya. Butuh waktu 15 menit untuk sampai dengan kecepatan berkendara ala ibu saya. Singkat cerita, saya bisa tiba ke halte Slipi dalam waktu 1 jam kurang saja dari halte awal.

Dan satu hal lagi, dengan naik Transjakarta, saya jadi menyadari bahwa saya bisa naik kendaraan ini untuk sampai ke kantor saya (yang baru). Sebelumnya saya hanya memikirkan opsi kereta (yang mesti dikombinasikan dengan ojek) dan naik mobil. Ah, terima kasih Tuhan sudah membuka pikiran saya untuk menyadari hal-hal di atas.

Alhamdulillah.

Macet x ASIAN Games x Transportasi Publik

Warga dan komuter Jakarta bisa terkena macet hingga 5 jam kemarin. Ada apa sih memangnya? Ternyata hal ini dikarenakan imbas kebijakan perluasan pemberlakuan plat ganjil genap hingga ke banyak tol; untuk penyambutan ASIAN Games. Kalau saya sih kebetulan memang (sialnya) pulang pagi ya, jadi tidak turut merasakan padatnya jalanan.

Hal menarik yang saya perhatikan adalah imbas perilaku para manusia Jakarta di keesokan harinya. Jalan benar-benar bisa dibilang kosong untuk takaran kota megapolitan ini. Memang selalu ada kemudahan berbarengan dengan kesulitan ya, kali ini kita jadi dipaksa menggunakan transportasi publik.

Cheers,
Bunga