Gapapa kok ‘cuma’ bahasa Inggris. Yang penting waktunya bermanfaat ya. Tinggal PR-nya adalah datang ke kantor jam 9 pagi tiap Selasa dan Kamis, untuk belajar 2 jam per sesi, selama 30 pertemuan. Ah, semangat, Bunga!
Friday, September 13, 2019
Belajar Bahasa (Inggris) Lagi
Saya ingat di awal tahun saya memiliki target untuk menambah kemampuan bahasa asing yang baru. Alhamdulillah bulan ini saya diberi kesempatan untuk belajar bahasa Inggris lagi. Kali ini bertempat di kantor dan gratis, terima kasih Traveloka.
Thursday, September 12, 2019
Selamat Jalan, Eyang Habibie
Hari itu saya naik ojek online dari Traveloka ke FX, untuk mengembalikan pinjaman baju dari Style Theory. Kali itu saya dipertemukan driver yang senang bercakap. Entah bagaimana, pusat percakapan kami mengenai anaknya yang baru saja masuk ITB, teknik penerbangan atau sejenisnya.
Si Bapak bercerita dengan bangga, walaupun beliau ‘hanya’ driver ojek online, pendidikan anaknya adalah nomor satu. Dari cerita beliau, saya menyimpulkan anaknya adalah anak yang tahu diri. Dengan kondisi sudah tidak memiliki ibu, dia tetap bersemangat belajar dan hidup tidak neko-neko untuk menyokong kehidupan kuliahnya dan tidak menyusahkan si Bapak. Juga menjadikan B. J. Habibie sebagai idola, panutan hidupnya. Saking dekatnya si anak dengan si Bapak, si Bapak pandai menceritakan tentang paten yang dimiliki Eyang Habibie, yang begitu diinginkan oleh Boeing.
Dan kepergian Eyang Habibie kemarin, mengingatkan saya dengan diskusi 15 menit hari itu. Eyang, you indeed will be missed. Kalau saya punya anak nanti, saya akan cerita bahwa betapa bangganya Indonesia punya putra bangsa seperti Eyang.
Friday, August 23, 2019
Drama Keberangkatan Hingga Menikmati Jalan Harmoni di Penang
Ke Malaysia itu bukan kali pertama jadi tujuan traveling saya. Sebelumnya saya pernah traveling ke Kuala Lumpur di tahun 2017. Dan saya baru sadar belakangan bahwa Kuala Lumpur itu hanya bagian kecil dari Malaysia. Ada Penang, Langkawi, dan mungkin wilayah lainnya yang ternyata menarik dikunjungi. Dan untuk kali ini saya memutuskan pergi ke Penang karena merupakan kota historikalnya dan masih ada Iphul yang jadi TKI di sini.





Keberangkatan saya ke sini diawali dengan pesawat Malindo yang delay 30 menit. Kalau dihitung secara kasar, waktunya tidak akan cukup untuk connecting flight di Kuala Lumpur untuk ke Penang yang cuma berjarak 1 jam. Kalaupun cukup saya sudah membayangkan akan tergesa-gesa sekali. Dan bayangan buruk yang saya pikirkan malah tereksekusi lebih parah lagi: pesawat cancel dan direschedule ke jam 10 malam yang seharusnya berangkat jam 2 siang. Ditambah, keberangkatannya bukan dari bandara Kuala Lumpur, keberangkatannya dari Subang. Ternyata masalahnya berpusat dari sistem bandara Kuala Lumpur yang memang sedang terganggu.
Saya yang memang dasarnya pasrah untuk kondisi yang tidak bisa saya atur, menuju counter Malindo untuk mendapat penjelasan dan kalau bisa penyelesaian terbaik. Namun Tuhan Maha Baik, di sana saya dipertemukan dua orang Indonesia lainnya yang juga hendak menuju ke Penang. Selain jadi punya teman sependeritaan, ternyata ada satua orang yang cukup gigih meminta maskapai mengusahakan agar kami bisa ikut penerbangan terdekat tanpa harus menunggu hingga jam 10 malam. Alhamdulillah.
Sesampainya di Penang, saya sudah ditunggu airporttransport yang saya sudah pesan sejak lama ketika ada diskon di Traveloka. Tapi karena drivernya harus menunggu, saya sepakat memberi tambahan 20 ringgit dibandingkan harus pusing lagi memikirkan bagaimana cara ke hotel. Sepanjang perjalanan, ternyata jalanan Penang cukup lancar dan nuansa yang saya rasakan adalah seperti kota Tangerang (kota yang cukup besar, tapi tidak semegah Jakarta).
Hujan deras menyambut saya ketika tiba di hotel. Karena saya juga sudah melakukan booking, saya hanya perlu menunjukkan passport dan memberikan uang deposit sebanyak 50 ringgit. Sekilas saya baca ada peraturan mengenai pembayaran pajak bagi wisatawan sebesar 3 ringgit per malam. Uang tersebut mungkin akan dipotong dari deposit ketika check out, entahlah saya juga belum tahu.
Selain bermasalah dengan penerbangan, entah kenapa paket data roaming saya seperti tidak mendapatkan sinyal ketika keluar bandara. Saya agak kesulitan mengontak Iphul untuk janjian bertemu memberikan pesanan lauk nasi padang Pagi-Sore Cipete pada jam 7 malam di Masjid Kapitan Keling. Dia menyarankan untuk membeli sim card agar memudahkan komunikasi.Untungnya di sebelah hotel ada Giant, jadi saya bisa ke sana untuk membeli U-Mobile. Walaupun ternyata tetap tidak bisa saya gunakan.
Berbekal keyakinan pasti bisa bertemu walau dengan koneksi terbatas, saya tetap memesan Grab dengan mengandalkan wifi Hotel Royal Penang. Ongkos yang saya habiskan adalah 7 ringgit. Yang menjemput seorang wanita ramah, yang bilang di dekat masjid ini ada nasi kandar yang enak ketika sampai di lokasi.
Setelah shalat maghrib, saya duduk tidak jauh dari tempat jamaah laki-laki. Alhamdulillah, tiba-tiba paket data roaming saya aktif setelah saya kembalikan lagi U-Mobile ke kartu Telkomsel saya. Jadi, saya bisa mengontak Iphul.
Setelah mengambil lauk nasi padangnya, Iphul menjelaskan jalan di sekitar sini disebut sebagai jalan harmoni. Karena masjid, gereja, pura, dan vihara berdiri berdekatan. Selain itu, banyak mural bertebaran yang memang jadi ciri khas Penang. Jadilah saya berhasil mengambil beberapa foto dengan beberapa mural iconic, walaupun dilakakukan di malam hari.
Subscribe to:
Posts (Atom)