Thursday, October 3, 2019

Pasca Nonton Film Bebas Karya Riri Riza

Hari ini saya nonton film Bebas, karya sutradara Riri Riza yang diproduseri Mira Lesmana. Kalau duet dua orang ini, saya punya ekspektasi tertentu memang. Dan untungnya, ekspektasi saya gak meleset jauh: bagus.

Merujuk salah satu adegan di film, kalau saya diberi kesempatan untuk merekam diri saya ketika SMA, kira-kira saya akan ngomong apa ya ke diri saya di masa depan?

“Hai, Bunga. Ketika dewasa nanti kamu bakal jadi akuntan di perusahaan besar. Kamu bakal kaya dan bisa beli apa aja yang dimau.”

Kenyataannya sekarang? Kamu bukan akuntan. Tapi kamu bekerja di perusahaan besar. Kamu belum sekaya yang kamu bayangkan, bisa sedikit membeli apa yang dimau, bahkan gila jalan-jalan.

Buat yang mau mengenang masa muda, film ini pas banget. Nuansa yang diangkat pas banget buat generasi 90an.

Friday, September 13, 2019

Belajar Bahasa (Inggris) Lagi

Saya ingat di awal tahun saya memiliki target untuk menambah kemampuan bahasa asing yang baru. Alhamdulillah bulan ini saya diberi kesempatan untuk belajar bahasa Inggris lagi. Kali ini bertempat di kantor dan gratis, terima kasih Traveloka.

Gapapa kok ‘cuma’ bahasa Inggris. Yang penting waktunya bermanfaat ya. Tinggal PR-nya adalah datang ke kantor jam 9 pagi tiap Selasa dan Kamis, untuk belajar 2 jam per sesi, selama 30 pertemuan. Ah, semangat, Bunga!

Thursday, September 12, 2019

Selamat Jalan, Eyang Habibie

Hari itu saya naik ojek online dari Traveloka ke FX, untuk mengembalikan pinjaman baju dari Style Theory. Kali itu saya dipertemukan driver yang senang bercakap. Entah bagaimana, pusat percakapan kami mengenai anaknya yang baru saja masuk ITB, teknik penerbangan atau sejenisnya.

Si Bapak bercerita dengan bangga, walaupun beliau ‘hanya’ driver ojek online, pendidikan anaknya adalah nomor satu. Dari cerita beliau, saya menyimpulkan anaknya adalah anak yang tahu diri. Dengan kondisi sudah tidak memiliki ibu, dia tetap bersemangat belajar dan hidup tidak neko-neko untuk menyokong kehidupan kuliahnya dan tidak menyusahkan si Bapak. Juga menjadikan B. J. Habibie sebagai idola, panutan hidupnya. Saking dekatnya si anak dengan si Bapak, si Bapak pandai menceritakan tentang paten yang dimiliki Eyang Habibie, yang begitu diinginkan oleh Boeing.

Dan kepergian Eyang Habibie kemarin, mengingatkan saya dengan diskusi 15 menit hari itu. Eyang, you indeed will be missed. Kalau saya punya anak nanti, saya akan cerita bahwa betapa bangganya Indonesia punya putra bangsa seperti Eyang.